SELAMAT DATANG DI BLOG STKIP HAMZAR DAN MENGUCAPKAN : SELAMAT ATAS BERDIRINYA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) HAMZAR KABUPATEN LOMBOK UTARA. Izin KEMDIKNAS RI, Nomor: 04/D/O/2011, Tanggal 7 Januari 2011. Kampus Induk: Komplek Perguruan Yayasan Maraqitta'limat Lokok Aur Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2011

Membersihkan Kalbu

Oleh Ustadz Agus Handoko, MA

Manusia sering kali melakukan sesuatu atas dasar hawa nafsunya yang mengakibatkan perbuatan tersebut berdampak negative ditengah-tengah masyarakat. Untuk menghindari penyesalan diakhir perbuatan yang akan dilakukan, maka seyogyanya bertanyalah pada hati kecil, baik dan buruknya perbuatan tersebut. Oleh karena itu setiap manusia dituntut untuk memahami hatinya atau bahasa lain adalah "Qolbu".

Pengertian "Qolbu" :

Menurut Syekh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali al-Husaini al-Jurjaniy didalam kitabnya "at-Ta'rifat" : Qolbu adalah sifat lembutnya Ketuhanan yang terdapat dalam jiwa manusia.
Dalam hadis Rasulullah Saw: Dari Nu'man bin Basyir berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda: " Ketahuilah,sesunggu hnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah "Qolbu" yaitu hati ". ( Hadis Riwayat Bukhori ).
Jika kita pahami secara mendalam hadis tersebut, maka hati sangat berperan dalam kehidupan jiwa manusia, karena hati yang bersih akan melahirkan jiwa yang bersih dan selalu taat serta tunduk terhadap titah dari Sang Ilahi Rabbi. Sebaliknya jiwa yang kotor disebabkan karena jiwa tersebut memiliki hati yang tidak baik dan selalu melanggar aturan yang telah digariskan oleh Allah Swt.

Tanda-tanda hati yang kotor atau sakit.

Fitrah manusia adalah suci dan bersih dalam menjalankan perintah agama,namun terkadang dalam perjalanan kehidupannya, manusia sering lupa dan lalai serta terjerumus dalam sifat-sifat "syaithoniyah" . Untuk mengenal lebih jauh tanda-tanda hati manusia yang telah kotor atau sakit, berikut ini salah satu tandanya :
Adanya sifat nifaq ( Munafik ) dalam jiwa manusia, mari kita renungkan firman Allah Swt. Dalam surat al-Baqarah :
" Dan diantara manusia ada yang berkata " kami beriman kepada Allah dan hari akhir ", padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang2 yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang2 yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit ( Nifaq ), lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat adzab yang pedih, karena mereka berdusta ". ( QS.al-Baqarah : 8-10 )
Jika kita perhatikan ayat-ayat tersebut, maka sifat munafik akan menjadikan hati manusia bertambah kotor dan rusak, karena pada dasarnya manusia yang memiliki sifat nifaq akan terlihat diluar dirinya manis akan tetapi dalam bathinnya dia memiliki sifat-sifat syaithoniyyah, apa saja sifat-sifat tersebut,
Syekh az-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya "al-Kassyaf" , menggambarkan hati yang sakit karena sifat nifaq dalam diri manusia adalah selalu condong untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt. Sedangkan Syekh Abu Zahrah dalam kitab tafsirnya "Zahratu at-Tafasir", bahwasanya hati akan menjadi keras karena sifat nifaq yang selalu menanamkan kedengkian dan selalu menghinakan orang2 yang beriman. Penyakit hati tersebut menurut beliau tidak ada obatnya, na'udzubillah.

Membersihkan hati yang kotor

Ketika manusia sudah mulai malas beribadah kepada Allah Swt. Maka sebaiknya bersegeralah beristighfar untuk mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Karena ketika kita membiarkan diri kita jauh dari Allah Swt. maka hati sedikit demi sedikit akan kotor dan jika tidak segera di obati hati tersebut akan mengeras, sebagaimana di isyaratkan dalam al-Quran surat al-Baqarah :
" Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga hatimu seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu2 itu pasti ada sungai2 yang airnya memancar daripadanya. Adapula yang terbelah lalu kaluarlah mata air daripadanya. Dan adapula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah Swt. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan ". ( QS.al-Baqarah : 74 )
Oleh karena itu untuk menghindari kerasnya hati cepatlah kembali kepada Allah dengan memohon ampunan dari-Nya, sebagaiman Allah perintahkan kepada orang2 yang beriman :
" Wahai orang2 yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah2an Tuhan kamu akan menghapus kesalahan2 mu dan memasukkan kamu kedalam surga2 yang mengalir dibawahnya sungai2, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang2 yang beriman bersama dengannya, sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, " Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami, sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (SQ.at-Tahrim: 8)
Syekh al-Hafidz Ibnu katsir dalam kitabnya "Tafsir al-Quran al-'Adzim", menjelaskan bahwasanya seseorang yang bertobat kepada Allah Swt, dia sungguh menyesali dosa2 yang telah ia lakukan dan tidak akan mengulanginya lagi.
Perbuatan manusia bersumber dari hatinya, maka ketika hatinya selamat dari sifat2 yang kotor maka perbuatan tersebut akan mencerminkan prilaku yang islami dan jauh dari maksiat kepada Allah Swt.
Maka marilah sama2 selamatkan hati kita dari sifat-sifat yang dapat menjerumuskan diri manusia kedalam jurang kehinaan didunia maupun diakherat kelak. Karena semua yang kita miliki baik harta benda maupun keturunan kita tidak dapat menolong diri kita selamat dihari hisab nanti kecuali jiwa tersebut diiringi dengan hati yang bersih ( Qolbu as-Salim ), sebagaimana diisyaratkan oleh Allah Swt, dalam surat as-Syu'ara :
1613;
" Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah Swt. dengan hati yang bersih". (QS.as-Syu'ara: 88-89 )
Maka ketika hati setiap jiwa manusia bersih, prilaku dia akan baik pula. Ketika prilaku baik akan menghasilkan ketaatan kepada Allah Swt. dimanapun dia berada, dan itulah cita-cita terbesar dalam kehidupan ummat manusia.
Mudah-mudahan Allah Swt. selalu membersihkan hati kita dari sifat-sifat kotor yang dapat menjerumuskan jiwa dan raga kita jauh dari Allah Swt menuju kepada hati yang bersih dan selamat. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
Selengkapnya...

Bangsa Peminta-Minta

Belakangan ini ada satu pertanyaan yang selalu berputar di kepala saya. Mengapa Rasulullah tidak pernah menolak para pengemis?? Mengapa tidak boleh menghardik pengemis kalau kita tidak mau memberikan sedekah padanya?? Mengapa Fatimah, putri kesayangan Rasulullah, sampai rela memberikan tikar yang digunakan anaknya tidur pada pengemis ketika tidak ada lagi harta yang bisa disedekahkannya pada pengemis?? .

Jawaban paling sederhana yang bisa menjadi konklusi adalah bahwa agama yang sempurna ini mengajarkan kita untuk menyantuni fakir miskin dan menyayangi anak yatim. Belum lagi konsekuensi pahala berlimpah dan rezki yang bertambah yang Allah janjikan pada mereka yang suka bersedekah. .

Kemudian saya mencoba membandingkan dengan realitas yang ada sekarang. Sebuah bangsa dengan kondisi masyarakat yang memprihatinkan. Gepeng alias gembel dan pengemis ada di mana-mana. Sampai-sampai pemerintah pun mengeluarkan Perda yang melarang memberikan uang pada mereka. Satpol PP pun dikerahkan untuk menertibkan mereka. Terutama bila Ramadhan datang. .

Saya pun mencoba membuat analisa sederhana. Seorang Ustadz pernah bercerita pada saya tentang salah seorang sahabat yang banyak sekali meriwayatkan hadits. Terbanyak setelah istri Rasul, Aisyah RA. Dia adalah Abdurrahman bin Sakhr Ad-Dausi atau yang lebih kita kenal sebagai Abu Hurairah RA. Ustadz bercerita tentang bagaimana Abu Hurairah RA berguling-guling di dalam masjid sambil memegangi perutnya. Orang-orang menganggapnya gila. Tapi, beliau bukan gila. Beliau tengah kelaparan. Tapi, rasa laparnya tak membuat beliau jadi peminta-minta. Saya jadi berspekulasi.

Mungkin Rasulullah tak pernah menolak bersedekah pada pengemis karena memang pengemis pada waktu itu betul-betul dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Dan mereka betul-betul terpaksa menjadi pengemis. Dan mereka harus melakoninya walau menanggung rasa malu yang sangat besar. Harga diri manusia yang hidup pada masa itu begitu tinggi. Mereka tidak mau merendahkannya dengan menengadahkan tangan, meminta belas kasihan orang lain. Kalau masih mampu ditahan maka mereka akan menahannya.

Bedanya dengan yang hidup pada masa sekarang adalah, pengemis kini menjadi profesi baru di Indonesia. Silakan hitung jumlah pengemis dalam satu lingkup kecamatan saja. Kita akan menemukan jumlah yang sangat banyak. Beberapa dari mereka masih sangat muda dan sepertinya masih sanggup untuk bekerja bahkan kalaupun harus jadi kuli batu. Lihatlah ketika ada pembagian zakat yang hanya 10 ribu rupiah, masyarakat antri berdesak-desakan sampai harus meregang nyawa. Mereka tidak malu menunjukkan kemiskinan mereka.

Padahal kemiskinan itu dekat dengan kekafiran. Masa’ sih potensi zakat masyarakat Indonesia yang mencapai 19 trilyun per tahunnya tidak bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin itu. Dikemanakan uangnya?? Belajarlah dari pemimpin-pemimpin terbaik yang pernah ada. Bagaimana mereka memakmurkan rakyat dan negerinya dengan zakat. Belajarlah dari para tokoh itu tentang bagaimana mengolah zakat dengan professional sehingga melahirkan kesejahteraan. Bagi kita yang mampu, berzakatlah. Karena zakat adalah hak Allah. Zakat akan menambah rezki dan membuat harta kita berkah. Berdoalah semoga wajah bangsa ini tak selamanya menjadi bangsa peminta-minta. Oleh: ibutina
Selengkapnya...

Taubat dan Istiqomah

Oleh: M.Syairi

Pada suatu hari sahabat Nabi bernama Sufyan bin Abdullah yang bergelar Abu Amrah bertanya kepada Nabi; dia minta fatwa, apa sesungguhnya intisasri ajaran agama yang dibawa oleh Rasulullah. Sesudah itu aku tidak bertanya lagi, ujar Sufyan bin Abdullah. Nabi menjawab: "Katakanlah aku percaya kepada Allah, kemudian pegang teguh pendirian itu...".
Jawaban itu amat singkat dan sederhana kedengarannya. Anak kecil sekalipun bisa menghafalkannya dalam satu tarikan nafas; amantubillahi tsummastaqim. Akan tetapi iman kepada Allah, bukanlah untuk dihafal atau dianjurkan kepada orang lain. Dia menjadi sikap dan pendirian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itulah yang dikatakan istiqomah. "Istiqomah menurut difinisinya adalah pendirian yang teguh".

Meskipun seorang khatib berbicara di mimbar tentang keimanan setiap hari jum'at atau seorang ulama yang memiliki segudang ilmu tentang agama, setiap saat mengeluarkan fatwa halal dan haram, belum tentu istiqomah iman dan taqwanya. Orang istiqomah adalah orang yang satu antara kata dan perbuatannya, berani menempuh resiko demi imannya kepada Allah.

Beberapa kali kita mendengar keluhan tentang makin kurangnya ulama di Indonesia. Akan tetapi beberapa kali pula kita menyaksikan pada siaran warta bertita televisi, koran, bahwa upacara-upacara resmi mulai dari tingkat pusat, propinsi atau kabupaten yang dihadiri oleh puluhan bahkan ratusan ulama memakai jubah dan serban. Maka yang dimaksud langka itu ialah ulama yang istiqomah. Bukan yang diokerahkan dalam suatu upacara di lapangan, atau tukang bikin fatwa halal dan haram.

Seorang muttaqin adalah orang yang bebas dari rupa-rupa pengaruh duniawi dan materi serta vested intterest. Dia takut hanya kepada Allah dan selalu dekat kepada-Nya. Karena sikap istiqomah itu, seruannya didengar dan ditaati. Istiqomah membuat orang berwibawa dan disegani, kendati dia bukan seorang pemimpin formal ataupun seorang ulama besar.

Pada waktu akhir-akhir ini, sehubungan dengan kesulitan ekonomi dan usainya pesta demokrasi memilih calon-calon legislatif, seruan-seruan taqwa itu tidak hanya dilakukan oleh para khatib dari mimbar masjid ataupun pada waktu peringatan hari besar agama belaka. Tapi dalam forum resmi yang tak bersifat keagamaan para pemimpin dan pejabat menggunakan kesempatan mengingatkan rakyat, agar taqwa kepada Allah, hidup sederhana, solidaritas sosial, menjauhkan sikap mementingkan diri sendiri dengan merugikan orang lain.

Namun kita masih saja menyaksikan praktek-praktek yang tidak sesuai dengan anjuran. Artinya masih adanya kesenjangan antara anjuran dan praktek itu. Lihat saja mislanya, banyak para caleg yang tidak yang tidak siap kalah pada pemilu lalu, sehingga banyak diantara mereka yang depresi, stress dan masuk rumah sakit jiwa, bahkan yang paling mengeriokan sampai bunuh diri karena kalah. Tentu saja ini semua terjadi karena kelemahan kita sebagai manusia. Kita yang lemah tidak bisa memagar diri dari arus kehidupan materialisme. Tak tahan godaan nafsu, mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Pemimpin atau ulama adalah manusia yang mempunyai kelemahan yang sama. Disinilah kita melihat hubungan istiqomah dengan taubat.

Rasulullah dalam sebuah hadisnya yang terkenal mengatakan: "Setiap kamu adalah pemimpin, yang bertanggungjawab atas rakyat yang dipimpinnya...."

Maka dari hadis itu jelas, yaitu kita-kita ini adalah pemimpin, pemimpin rumah tangga, di kantor, di perusahaan, sampai pada pemimpin negara. Tanggung jawab seorang pemimpin selain kepada rakyat yang dipimpin, yang lebih lagi kepada Allah. Kita bisa memaksakan kehendak atau melakukan tipu daya terhadap orang yang dipimpin, akan tetapi tidak kepada Allah. "Mintalah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian taubatlah kepada-Nya, maka ia akan memberimu kesenangan sampai masa yang telah ditentukan, dan tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan akan diberi keutamaan, tetapi jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku (Muhammad) sangat menghawatirkan azab yang pedih itu akan menimpamu". (QS.Huud : 3)

Menurut Al-Ghazali, taubat ialah kembali dari memperturutkan syahwat dan mentaati perintah syaitan, kepada jalan Allah Ta'ala yang lurus. Sementara dalam tafsir Al-Azhar, Hamka mengemukakan : "Taubat artinya kembali, setelah menempuh jalan yang sangat sesat tidak tentu ujung. Bertambah lama bertambah rasa gelap, lalu timbul sesal dan segera kembali". Selanjutnya Allah menerangkan di dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya taubat disisi Allahj hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, kemudian mreka segera bertaubat, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya..." (Q.S.4:17).
"Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan, sehingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang, dan tidak pula (diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksaan yang pedih". (Q.S.A:18).

"Ya Allah ampunilah aku, dan terimalah taubatku, karena sesungguhnya engkau penerima taubat lagi maha pengampun".

Semakin besar tanggung jawab seseorang semakin dituntut taubatnya. Kita selalu merasa bangga pada hasil-hasil atau sukses yang dicapai, misalnya sukses dalam bidang perdagangan,
dalam meniti karir, dalam study, duduk di dewan dan sebagainya. Lalu, kita ingin orang lain mengetahui sukses yang diraih itu untuk dibanggakan, kalau perlu diteriakkan kepada orang banyak.

Tapi, di samping sukses-sukses itu kita berusaha merahasiakan kegagalan dan kekecewaan meski sulit untuk dirahasiakan. Misalnya, anak yang dididik dan diasuh sejak kecil, di sekolahkan dengan biaya mahal ke sekolah paforit bahkan sampai ke luar negeri, setelah dewasa menempuh jalan yang berbeda dengan kehendak orangtuanya, bahkan tak jarang mencemarkan nama baik orang tuanya. Karir yang dibangun dari tingkat bawah hancur seketika. Atau usaha yang dibina dengan modal pinjam kiri-kanan mengalami kerugian.

Dalam masalah yang menyangkut orang banyak, seperti pembangunan negara kita membanggakan hasil-hasil yang diperoleh dengan menunjuk angka statistik kesejahteraan rakyat berswasembada pangan.

Berdasarkan keberhasilan yang dicapai, kita bertekad memasuki tahap tinggal landas. Akan tetapi di luar dugaan, terjadi krisis ekonomi yang melanda negara kita. Anjloknya harga rupiah terhadap dolar sampai batas terendah, terjadinya bencana alam berupa kebakaran hutan serta menggusur lahan pertanian dan pemukiman rakyat, gempa bumi, tanah longsor, banjir dan kasus-kasus lainnya hingga saat ini belum teratasi.

Melihat kondisi demikian, para pemimpin mulai dari tingkat bawah hingga tingkat pusat terus menerus menganjurkan agar rakyat melakukan taubat nasional. Bila kita menyadari, maka sebagai manusia, memenuhi panggilan Allah adalah wajib, para ulama-pun mengatakan taubat itu wajib hikumnya. Tapi lagi-lagi karena kelemahan kita sebagai manusia, atau karena keangkuhan, malu turun gengsi mengakui kesalahan, kita membelakangi Allah.

Kepada Allah tidak ada kesangsian-kesangsian, bahkan Allah menunggu dengan pintu terbuka akan kedatangan hamba menyatakan taubat. Nabi mengatakan: "Sesungguhnya Allah sangat gembira melihat taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang diantara kamu yang tiba-tiba menemukan ontanya yang hilang meninggalkan dia di tanah belantara".

"Demi Allah, bahwa aku benar-benar minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya adalah setiap hari lebih dari 70 kali".

Nabi sendiri yang maksum, yang bebas dari dosa 70 kali taubat sehari. Siapakah diantara kita ini dibandingkan dengan Nabi Muhammad yang telah dijamin masuk syurga dan telah disucikan dari dosa-dosa?

Maka sekali lagi marilah kita bertaubat kepada Allah, dengan taubat nasuha. "Aku minta ampun kepada Allah. Tiada Tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup lagi Maha berdiri sendiri dan aku taubat kepada-Nya".

Dalam tafsir Al-Maraghi 19:40 disebutkan : "Barangsiapa yang taubat dari maksiat yang telah dikerjakannya dan dia menyesal atas perbuatannya, dan membersihkan dirinya dengan menngerjakan amal-amal shaleh, maka sesungguhnya dia betul-betul taubat kepada Allah dengan taubat nasuha". Menurut pendapat Ibnu Abbas RA : "Taubat nasuha ialah menyesali dengan hati, memohon ampunan dengan lisan, menjauhi dengan badan dan bertekad kuat untuk tidak kembali mengerjakannya". (Al-Ta'rifat, hal.63).

Kita telah cukup banyak mendengar seruan dari para pemimpin dan dari ulama-ulama. Pintu hati kita telah berulang kali diketuk, akal sehat kitapun telah menyadari kelalaian kita selama ini agar merubah tingkah laku dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang menjauhkan kita dari Allah. Taubat akan meneguhkan pendirian kita, meninggikan mutu iman dan istiqomah kita.

Pengalaman pahit, kegagalan duduk di kursi dewan, kegagalan usaha yang kita hadapi berulang-ulang sebagai pribadi atau bangsa, itu hanyalah akibat belaka dari kelalaian kita sendiri. Maka demi kebahagiaan kita sebagai umat dan sebagai suatu bangsa, kitalah umat Islam yang merasakan betapa beratnya tanggungjawab kepada Allah untuk membangun bangsa dan meningkatkan kesejahteraan umat. Oleh karena itu kitalah yang seharusnya terlebih dahulu melaksanakan taubat kepada-Nya tanpa menunggu orang lain.

"Berbahagialah orang yang dapat mengoreksi dirinya sendiri sebelum dia mengoreksi orang lain". Jangan menyalahkan orang lain, jada diri sendiri : "Jagalah dirimu, tiada orang lain yang sesat itu akan memberimu mudharat kepadamu apabila kamu telah memperoleh petunjuk". (Al-Maidah: 5) Semoga Allah SWT senantiasa membuka pintu taubatnya untuk kita semua, amin.
Selengkapnya...

Senin, 21 Februari 2011

Dzikir Ibadah yang Sangat Agung

Segala puji bagi Allah, Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun. Dzat yang menetapkan takdir dan mengatur segala urusan. Dzat yang mempergilirkan malam dan siang sebagai pelajaran bagi orang-orang yang memiliki hati dan pemahaman. Dzat yang menyadarkan sebagian makhluk dan memilihnya di antara orang pilihan-Nya dan kemudian Allah memasukkan dia ke dalam golongan orang-orang yang terbaik. Dzat yang memberikan taufik kepada orang yang Dia pilih di antara hamba-hamba-Nya kemudian Allah jadikan dia termasuk golongan al-Muqarrabin al-Abrar.

Segala puji bagi-Nya yang telah memberikan pencerahan kepada orang yang dicintai-Nya sehingga membuat mereka untuk bersikap zuhud di alam kehidupan dunia ini, sehingga mereka bersungguh-sungguh untuk meraih ridha-Nya serta bersiap-siap untuk menyambut negeri yang kekal. Oleh sebab itu, mereka pun menjauhi perkara yang membuat-Nya murka dan menjauhkan diri dari ancaman siksa neraka. Mereka menundukkan dirinya dengan penuh kesungguhan dalam ketaatan kepada-Nya serta senantiasa berdzikir kepada-Nya pada waktu petang maupun pagi. Dzikir itu senantiasa mereka lakukan walaupun terjadi perubahan keadaan dan di setiap kesempatan; malam maupun siang hari. Oleh sebab itu, bersinarlah hati mereka dengan pancaran cahaya keimanan (lihat Mukadimah Al Adzkar, dalam Shahih Al Adzkar, hal. 11)Saudaraku -semoga Allah menyinari hati kita dengan keimanan-, dzikir merupakan ibadah yang sangat agung. Allah ta’ala berfirman,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku juga akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152)
Orang-orang yang hadir dalam majelis dzikir adalah orang-orang yang berbahagia. Bagaimana tidak, sedangkan di dalam majelis itu dibacakan ayat-ayat Allah ta’ala dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang itu merupakan sumber ketenangan hati dan kebahagiaan sejati.
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat mereka maka bertambahlah keimanan mereka…” (QS. al-Anfal: 2)
Di saat peperangan berkecamuk, Allah pun tetap memerintahkan ibadah yang mulia ini agar mereka menjadi orang-orang yang mendapatkan keberhasilan. Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan pasukan musuh maka tegarlah kalian dan ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, mudah-mudahan kalian beruntung.” (QS. al-Anfal: 45)
Allah ta’ala juga berfirman,
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.” (QS. ar-Ra’d: 28)
وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ
Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menjumpai sebuah halaqah yang terdiri dari para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya, “Apa yang membuat kalian duduk di sini?” Mereka menjawab, “Kami duduk untuk mengingat Allah ta’ala dan memuji-Nya atas petunjuk yang Allah berikan kepada kami sehingga kami bisa memeluk Islam dan nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kami.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Demi Allah, apakah tidak ada alasan lain bagi kalian sehingga membuat kalian duduk di sini melaikan itu?” Mereka menjawab, “Demi Allah, tidak ada niat kami selain itu.” Beliau pun bersabda, “Adapun aku, sesungguhnya aku sama sekali tidak memiliki persangkaan buruk kepada kalian dengan pertanyaanku. Akan tetapi, Jibril datang kepadaku kemudian dia mengabarkan kepadaku bahwa Allah ‘azza wa jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah ada suatu kaum yang duduk untuk berdzikir kepada Allah ta’ala melainkan malaikat akan meliputi mereka dan rahmat akan menyelimuti mereka, dan akan turun kepada mereka ketenangan, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا قَالُوْا وَمَا رِيَاضُ الجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
“Apabila kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah.” Maka para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud taman-taman surga itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah dzikir, karena sesungguhnya Allah ta’ala memiliki malaikat yang berkeliling untuk mencari halaqah-halaqah dzikir. Apabila mereka datang kepada orang-orang itu, maka mereka pun meliputinya.” (HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan dihasankan oleh Syaikh Salim dalam Shahih Al Adzkar, hal. 16)
An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya keutamaan dzikir itu tidak terbatas kepada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan semacamnya. Akan tetapi, setiap orang yang beramal ikhlas karena Allah ta’ala dengan melakukan ketaatan maka dia adalah orang yang berdzikir kepada Allah ta’ala. Demikianlah, yang dikatakan oleh Sa’id bin Jubair radhiyallahu’anhu dan para ulama yang lain. Atha’ rahimahullah mengatakan, ‘Majelis dzikir adalah majelis halal dan haram, yang membicarakan bagaimana menjual dan membeli, bagaimana shalat, menikah, thalaq, haji, … dan sebagainya.’” (Shahih Al Adzkar, hal. 18)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Sebagian dari kalangan ahli hikmah yang terdahulu dari Syam -dugaan saya adalah Sulaiman Al Khawwash rahimahullah mengatakan, ‘Dzikir bagi hati laksana makanan bagi tubuh. Maka sebagaimana tubuh tidak akan merasakan kelezatan makanan ketika menderita sakit. Demikian pula hati tidak akan dapat merasakan kemanisan dzikir apabila hatinya masih jatuh cinta kepada dunia’. Apabila hati seseorang telah disibukkan dengan mengingat Allah, senantiasa memikirkan kebenaran, dan merenungkan ilmu, maka dia telah diposisikan sebagaimana mestinya…” (Majmu’ Fatawa, 2/344)
Oleh sebab itu, menjadi orang yang banyak mengingat Allah merupakan cita-cita setiap mukmin. Allah ta’ala berfirman,
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
 
“Dan kaum lelaki yang banyak mengingat Allah demikian pula kaum perempuan, maka Allah persiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.” (QS. Al Ahzab: 35)
Mujahid rahimahullah mengatakan, “Tidaklah tergolong lelaki dan perempuan yang banyak mengingat Allah kecuali apabila dia membiasakan diri senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.” (Shahih al-Adzkar, hal. 19)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا فِي الذَّاكِرِينَ وَالذَّاكِرَاتِ
“Apabila seorang suami membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat bersama sebanyak dua raka’at, maka mereka berdua akan dicatat termasuk dalam golongan lelaki dan perempuan yang banyak mengingat Allah.” (HR. Abu Dawud, An Nasa’i dalam Sunan Al Kubra, dan Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Salim dalam Shahih Al Adzkar, hal. 19)

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
 
Mu’adz bin Jabal -radhiyallahu’anhu- menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya seraya mengucapkan, “Hai Mu’adz, demi Allah sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.” Lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu hai Mu’adz, jangan kamu tinggalkan bacaan setiap kali di akhir shalat hendaknya kamu berdoa, ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).” (HR. Abu Dawud, disahihkan Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud no. 1522)

Itulah sebagian keutamaan dzikir yang bisa kami kemukakan di sini, semoga Allah memberikan kepada kita taufik untuk berdzikir kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah dengan baik kepada-Nya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahibihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Hamba yang fakir kepada ampunan Rabbnya
Semoga Allah mengampuninya
Selengkapnya...

Rabu, 16 Februari 2011

Pentingnya Pendidikan Anak

H Sahlan Rafiqi Sasaky

Allah swt berfirman dalam surat An-Nisaa ayat 9 : “Dan hendaklah takut kepda Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Secara khusus ayat di atas berkaitan dengan waris. Para orangtua dilarang meninggalkan anak keturunannya tak berharta lalu kemudian terhina dengan menjadi peminta-minta. Islam jelas melarang keras umatnya menghinakan diri seperti itu. Umat Islam diharuskan mandiri, produktif dan pemberi sebagaimana adanya kewajiban zakat, infaq dan sodaqoh.

Namun secara umum ayat ini berkaitan dengan hal yang lebih luas, tidak hanya berbicara tentang waris (harta) tetapi juga yang lainnya. Orangtua diharuskan khawatir meninggalkan (mewariskan) kepada anak cucunya dhu’afa (kelemahan) dalam beberapa hal di antaranya :

1. Lemah harta kekayaan. Seperti telah dijelaskan di atas, Islam mengharuskan umat untuk mewariskan harta kekayaan kepada keturunannya. Namun Islam adalah agama yang pertengahan (wasithiyah), seimbang sesuai fithrah insaniyah. Islam bukan agama yang mengharamkan umat memiliki harta, bukan juga agama yang memerintahkan umat untuk mendewakan harta dan menghambakan dirinya kepada harta. Tidak ada larangan dalam Islam untuk memiliki harta, Selama harta itu membuat pemiliknya semakin mendekatkan diri kepada Allah swt.

2. Lemah fisik. Islam mewanti-wanti agar para orangtua tidak meninggalkan keturunannya dalam keadaan lemah fisiknya. Islam mewajibkan umat untuk memiliki kekuatan fisik sebagaimana telah Allah perintahkan dalam surat Al-Anfaal ayat 60

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggetarkan musuh Allah dan musuh kalian….

Rasulullah saw bersabda: “Didiklah anak-anak kalian berenang, melempar dan berkuda.”

Bagaimana mungkin mampu menanggung kewajiban berjihad fi sabilillah jika fisiknya lemah tak berdaya? Bukankah Rasulullah telah mengingatkan bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.

3. Lemah ilmu. Jelas sangat berbahaya jika ada orangtua yang meninggalkan anak keturunannya tidak berilmu. Sebab ilmu adalah modal dasar kehidupan bisa berjalan dengan baik atau tidak. Ilmulah yang pertamakali harus dimiliki oleh setiap muslim sebelum berbicara dan beramal, Imam Bukhari mengatakan “Al-Ilmu qoblal qaul wal ‘amal. “ Hal itulah yang ditegaskan Allah dalam wahyu pertama-Nya kepada Rasulullah saw dalam surat al-‘Alaq ayat pertama “Bacalah (berilmulah) dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan”. Ilmu pula hal yang pertama kali Allah berikan kepada manusia pertama Adam AS, sebagaimana yang Allah kisahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 31. Betapa luar biasanya orang yang memilki ilmu sehingga derajatnya ditinggikan sebagaimana orang-orang yang beriman dalam surat al-Mujadilah ayat 11. (Lihat penjelasan selengkapnya pada artikel ‘Konsep Ilmu dalam Islam’).

4. Lemah Aqidah. Inilah kelemahan yang paling dahsyat bahayanya. Bahaya yang tiada terkira, karena Aqidahlah penentu keselamatan hidup dunia dan akhirat. Orangtua bertanggungjawab penuh atas keselamatan aqidah anak-anaknya seperti yang Allah ingatkan dalam surat At-Tahrim ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….”

Dan apakah kita tidak pernah merenungkan peringatan Allah dalam surat Al-baqarah ayat 133 tentang kisah sakaratul mautnya Nabi Ya’qub AS ?

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”….”

Wahai para orangtua akankah yang kita katakan kepada anak-anak kita saat ajal menjemput sama seperti yang ditanyakan Nabi Ya’qub? Yakni kita mengkhawatirkan anak-anak kita menyembah selain Allah swt. Ataukah justru yang akan kita tanyakan saat nyawa sampai tenggorokan adalah “Maa ta’kuluuna min ba’dii?” Apa yang akan kalian makan sepeninggalku.

Rasulullah saw bersabda; “Setiap anak lahir dalam keadaan beraqidah Islam. Maka tanggungjawab orangtuanyalah jika ternyata anaknya itu kemudian beraqidah kufur seperti Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (Muslim)

Sesungguhnya anak adalah amanah. Anaklah yang di akhirat nanti akan menjadi penentu apakah kita akan masuk Jannah Allah atau Neraka Allah. wh
Selengkapnya...